Loading...

Pengunjung

Khutbah Idulfitri UMM: Mudik Dimaknai sebagai Retret Kultural dan Spiritual

admin

admin

Jumat, 20 Maret 2026 - 20:22

1074 | Bagikan

Khutbah Idulfitri UMM: Mudik Dimaknai sebagai Retret Kultural dan Spiritual

admin - Sosial Budaya

Jumat, 20 Maret 2026 - 20:22 | 1074

Ilustrasi mudik lebaran yang menjadi budaya di masyarakat Indonesia. Jumat (20/3/2026). (Humas UMM)

KOTA MALANG, jurnalnusa.com — Perayaan Idulfitri 1447 Hijriah tidak sekadar menjadi penanda berakhirnya Ramadan, tetapi juga momentum refleksi mendalam bagi umat Islam.

Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. Biyanto dalam khutbah Idulfitri di Kampus III Universitas Muhammadiyah Malang, Jumat (20/3/2026).

Dalam khutbahnya, Biyanto menyoroti tradisi mudik yang telah mengakar kuat dalam masyarakat Indonesia.

Menurutnya, mudik bukan hanya perjalanan fisik menuju kampung halaman, tetapi juga bentuk retret kultural dan spiritual yang memiliki makna mendalam.

“Melalui mudik, masyarakat tidak hanya melakukan perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin untuk kembali pada akar budaya dan nilai-nilai kemanusiaan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, retret kultural tercermin dari upaya menjaga tradisi silaturahmi, mempererat hubungan keluarga, serta merawat kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi.

Tradisi saling mengunjungi, bermaaf-maafan, hingga berkumpul bersama keluarga besar menjadi bagian penting dalam memperkuat identitas sosial.

Sementara itu, retret spiritual hadir melalui proses refleksi diri setelah menjalani ibadah Ramadan.

Momentum Idulfitri dimanfaatkan untuk mengevaluasi diri, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta memperkuat relasi dengan Tuhan.
Biyanto menegaskan, kedua dimensi tersebut tidak dapat dipisahkan.

“Retret kultural tanpa spiritualitas akan kehilangan makna, sementara retret spiritual tanpa sentuhan sosial dan budaya akan terasa hampa,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan agar nilai-nilai yang dibangun selama Ramadan, seperti empati, kepedulian, dan pengendalian diri, tetap dijaga setelah Idulfitri.

Dalam konteks ini, mudik menjadi ruang aktualisasi nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

“Idulfitri adalah momentum untuk kembali ke fitrah, bukan hanya secara personal, tetapi juga dalam relasi sosial,” tambahnya.

Sementara itu, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, mengajak seluruh jamaah menjadikan Idulfitri sebagai titik balik untuk mempererat hubungan sosial yang mungkin sempat renggang.

Menurutnya, Idulfitri harus dimaknai sebagai momentum membangun kembali persaudaraan dan kekerabatan sebagai manifestasi ibadah dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Ia juga menekankan pentingnya kepedulian sosial sebagai buah dari ibadah puasa yang dijalankan secara mendalam.

“Puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menaklukkan hawa nafsu terhadap urusan dunia,” ujarnya.

Di akhir penyampaiannya, Nazaruddin Malik menyampaikan ucapan selamat Idulfitri sekaligus permohonan maaf kepada seluruh jamaah atas kekurangan selama rangkaian kegiatan Ramadan hingga pelaksanaan salat Idulfitri.

Melalui pesan-pesan tersebut, Idulfitri diharapkan tidak hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi juga momentum refleksi menyeluruh yang mampu menguatkan dimensi kultural dan spiritual, sekaligus mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat. (**)

Pewarta: Rendika Rakita Dewa
Editor: Doi Nuri