Para Santri Gus Gendeng Bedah Rumah Tidak Layak Huni di Kota Batu
Sabtu, 19 April 2025 - 16:39
Yayasan Sambung Rasa binaan Gus Gendeng lakukan bedah rumah di Kota Batu. Sabtu (19/4/2025). (Doi/JN)
Kota Batu, JN — Aksi kemanusiaan kembali dilakukan oleh para santri Gus Gendeng, yang bernaung dalam Yayasan Sambung Rasa dengan membedah rumah tidak layak huni.
Kali ini, rumah tukang parkir bernama Gatot (46), warga Dusun Glonggong RW 07, Kelurahan Temas, Kecamatan Batu, mendapatkan tindakan renovasi oleh tim Sambung Rasa, pada Sabtu (19/4/2025).
Kondisi rumah yang dinilai tidak layak untuk dijadikan tempat tinggal itu, akhirnya mendapatkan perhatian jamaah Sambung Rasa.
Tukang parkir bersama istri dan seorang anaknya, selama ini tinggal di rumah warisan orang tuanya yang hampir ambruk.

Keterbatasan ekonomi membuatnya tak mampu memperbaiki rumah tersebut. Kehadiran Yayasan Sambungroso menjadi angin segar bagi Gatot dan keluarganya.
Pengawas Yayasan Sambungroso Batu, Abdul Qodir menjelaskan, bahwa bantuan berasal dari ribuan anggota yayasan dalam bentuk uang, material bangunan, dan tenaga kerja secara gotong royong.
“Kami melakukan kegiatan ini murni dari hasil sumbangan anggota, tanpa bantuan pemerintah,” jelas dia singkat.
Aksi sosial ini menjadi bukti bahwa kolaborasi masyarakat dapat memberikan perubahan nyata, bahkan tanpa campur tangan pemerintah.

Yayasan Sambung Rasa hadir sebagai inspirasi bahwa kepedulian dan semangat gotong royong adalah kekuatan besar dalam membangun kehidupan yang lebih baik.
Kegiatan bedah rumah ini bukan yang pertama dilakukan Yayasan Sambung Rasa. Sebelumnya, yayasan yang berada di bawah bimbingan Gus Gendeng ini telah merenovasi rumah warga di Desa Oro-oro Ombo Kota Batu dan Desa Perinci Kabupaten Malang.
Seleksi penerima bantuan dilakukan melalui survei langsung dan masukan dari jamaah maupun warga sekitar.
Dengan jumlah jamaah mencapai seribu orang yang tersebar di Malang Raya, Yayasan Sambung Rasa terus konsisten bergerak dalam sunyi membantu mereka yang membutuhkan tempat tinggal layak huni. (**)
Pewarta: Rendi Rakita Dewa
Editor: Doi Nuri