Sarasehan 100 Hari Mengenang Romo Benny Susetyo: Merajut Persaudaraan dan Merawat Keberagaman
Selasa, 14 Januari 2025 - 13:40
Sarasehan 100 Hari Mengenang Romo Benny Susetyo: Merajut Persaudaraan dan Merawat Keberagaman
Selasa, 14 Januari 2025 - 13:40 | 1254
Acara sarasehan mengenang 100 Hari Mengenang Romo Benny Susetyo. Senin (13/01/2025). (Zara/JN)
Kota Malang, JN – Dalam rangka memperingati 100 hari wafatnya Romo Antonius Benny Susetyo, keluarga besar bersama para sahabatnya menggelar sarasehan yang berlangsung di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW), Sukun, Kota Malang, Senin (13/01/2025).
Acara ini bertajuk 'Merajut Persaudaraan Sejati, Menjaga Pancasila, Merawat Keberagaman: Romo Benny dari Titik Nol sampai Titik Akhir'.
Sarasehan ini menjadi momen berbagi cerita dan gagasan inspiratif tentang perjalanan hidup Romo Benny, mulai dari awal pengabdiannya di Situbondo pada 1996, masa-masa di Malang, hingga tugas terakhirnya di Jakarta sebagai Staf Khusus di Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) hingga tahun 2024.
Acara tersebut menghadirkan sejumlah sahabat dan kolega Romo Benny sebagai narasumber, seperti KH Noor Shodiq Askandar, Imam Muslich, Pdt Chrysta Andrea, Pandita Dhammamitto Suyanto RD JC. Eko Atmono, Mohammad Djayusman, dan Sutomo Adiwijoyo.
Ari Nurcahyo, koordinator acara, menjelaskan bahwa sarasehan ini bukan hanya untuk mengenang Romo Benny, tetapi juga sebagai momen refleksi dan doa bersama melalui Misa Kudus.
“Kita ingin mengenang bagaimana Romo Benny menjaga kerukunan antarumat, merawat keberagaman, dan menjaga Pancasila. Lebih dari itu, kita ingin gagasan-gagasannya dapat terus menginspirasi generasi muda untuk melanjutkan perjuangannya,” ungkapnya.
Perjalanan dari Situbondo ke Jakarta
Sarasehan mengenang Romo Benny digelar di tiga kota, yaitu Situbondo, Malang, dan Jakarta. Situbondo dipilih karena merupakan tempat awal perutusan Romo Benny sebagai imam Katolik.
Malang, kota kelahirannya, menjadi lokasi kedua, di mana Romo Benny bersama rekan-rekannya mendirikan Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKAUB).
Sementara itu, Jakarta menjadi simbol akhir perjalanan hidupnya sebagai Staf Khusus di BPIP sebelum wafat pada 2024.
“Titik nol kehidupan pelayanan Romo dimulai di Situbondo, sedangkan titik akhirnya berada di BPIP. Dalam perjalanan hidupnya, beliau selalu konsisten menjaga keberagaman, memperjuangkan persaudaraan sejati, dan merawat Pancasila,” tambah Ari.
Harapan Melahirkan Generasi Penerus
Ari juga menyampaikan harapan agar semangat dan perjuangan Romo Benny dapat diteruskan oleh generasi muda.
“Kami ingin menanamkan pesan kepada semua umat, khususnya anak-anak muda, agar semangat Romo Benny dalam menjaga kerukunan lintas agama dan iman dapat diwarisi. Kami berharap lahir generasi baru yang memiliki dedikasi seperti beliau,” ujar Ari.
Sebagai bagian dari upaya mendokumentasikan gagasan dan perjuangan Romo Benny, keluarga besar bersama para sahabat berencana menerbitkan sebuah buku.
Buku tersebut akan memuat refleksi dan pelajaran dari perjalanan hidupnya, dengan target penerbitan pada peringatan 1000 hari wafatnya.
“Buku ini akan merangkum tiga babak besar kehidupan Romo Benny, yakni masa-masa awal di Situbondo, perjuangan di Malang, dan pengabdiannya di tingkat nasional melalui BPIP. Semoga karya ini menjadi inspirasi bagi banyak orang,” pungkas Ari.
Dengan semangat yang diwariskan oleh Romo Benny, para sahabatnya berharap nilai-nilai toleransi, keberagaman, dan persaudaraan sejati tetap terjaga di tengah tantangan bangsa Indonesia saat ini. (**)
Pewarta : Zara Putri Islamia Aiska
Editor : Doi Nuri