Loading...

Pengunjung

Tiga Tahun dalam Dzikir, Kisah Spiritualitas Mbah Malik Purwokerto yang Terus Dikenang

admin

admin

Minggu, 28 Juni 2026 - 17:18

1242 | Bagikan

Tiga Tahun dalam Dzikir, Kisah Spiritualitas Mbah Malik Purwokerto yang Terus Dikenang

admin - Religi

Minggu, 28 Juni 2026 - 17:18 | 1242

Almaghfurlah KH Abdul Malik Purwokerto. Senin (29/06/2026). (Foto: NU Jateng)

KABUPATEN BANYUMAS, jurnalnusa.com — Sosok ulama kharismatik, Syeikh al-'Arif Billah Abdul Malik bin Ilyas atau yang lebih dikenal sebagai Mbah Malik Purwokerto, dikenal luas sebagai seorang alim, hafidz Al-Qur'an, ahli fikih, ahli tafsir, sekaligus mursyid Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah dan Tarekat Syadziliyah.

Sementara di kalangan santri dan masyarakat, beredar sebuah kisah spiritual yang hingga kini masih diceritakan sebagai bagian dari keteladanan dan karamah beliau.

Menurut penuturan yang diwariskan dari kalangan murid dan santri, peristiwa tersebut terjadi ketika Mbah Malik menjalankan rutinitasnya sebelum salat Zuhur.

Setelah menunaikan salat sunnah qabliah, beliau memimpin pembacaan selawat bersama para jamaah mulai sekitar pukul 12.00 WIB.

Tepat pukul 13.30 WIB, iqamah dikumandangkan sebagaimana kebiasaan yang telah berlangsung setiap hari.

Namun, pada saat itu Mbah Malik tetap duduk dalam keadaan berzikir. Tasbih di tangannya terus bergerak, tetapi beliau tidak berdiri untuk mengimami salat berjamaah.

Para jamaah menunggu cukup lama. Karena waktu salat Zuhur hampir berakhir, salat berjamaah akhirnya dipimpin oleh Kiai Isa, yang merupakan adik ipar Mbah Malik.

Keadaan Mbah Malik tetap sama hingga malam hari. Menurut kisah yang berkembang, kondisi fisiknya tampak normal tanpa menunjukkan tanda-tanda sakit maupun gangguan kesehatan.

Hari demi hari berlalu, bahkan hingga bertahun-tahun, beliau tetap berada dalam posisi duduk berzikir.

Para santri disebut tidak berani mengusik ataupun membangunkan beliau. Mereka justru menyaksikan wajah sang ulama semakin bercahaya dari waktu ke waktu.

Tiga tahun kemudian, tepat pada pukul 13.30 WIB, Mbah Malik dikisahkan membuka mata dan berkata, "Qamat... qamat....".

Permintaan tersebut segera diikuti para santri dengan berdiri untuk melaksanakan salat berjamaah, sementara Mbah Malik kembali menjadi imam.

Salat berlangsung seperti biasa tanpa terlihat tanda-tanda kelelahan, meskipun dalam kisah tersebut disebutkan beliau tidak makan dan tidak minum selama tiga tahun.

Usai salat, Mbah Malik bertanya tentang beberapa orang yang sebelumnya bersama beliau mengikuti pembacaan selawat.

"Lha si anu mana? Si itu ke mana?" tanya beliau.

Para santri kemudian menjawab bahwa orang-orang yang dimaksud telah meninggal dunia.

"Lha tadi masih bareng selawatan kok," ujar Mbah Malik dengan penuh keheranan, karena menurut pengalamannya seolah-olah waktu yang berlalu hanya sesaat.

Kisah tersebut oleh para pengikut tarekat dipahami sebagai gambaran maqam fana', yaitu keadaan spiritual ketika seorang hamba sepenuhnya tenggelam dalam mengingat Allah sehingga kesadaran terhadap dunia seakan sirna.

Dalam tradisi tasawuf, pengalaman semacam ini dipandang sebagai bagian dari perjalanan ruhani yang hanya dianugerahkan kepada hamba-hamba tertentu.

Meski demikian, kisah ini hidup sebagai riwayat lisan yang diwariskan di lingkungan murid dan pengikut Mbah Malik.

Hingga kini belum terdapat bukti historis yang dapat memverifikasi peristiwa tersebut secara akademis, sehingga masyarakat umumnya memandangnya sebagai bagian dari tradisi dan khazanah spiritual yang berkembang di kalangan pengikut beliau. (**)

Pewarta: Rendika Rakita
Editor: Doi Nuri