Loading...

Pengunjung

Pemkot Yogyakarta Genjot Normalisasi Sungai Winongo, Targetkan Jadi Destinasi Wisata Lingkungan

admin

admin

Jumat, 24 April 2026 - 04:06

1080 | Bagikan

Pemkot Yogyakarta Genjot Normalisasi Sungai Winongo, Targetkan Jadi Destinasi Wisata Lingkungan

admin - Peristiwa Daerah

Jumat, 24 April 2026 - 04:06 | 1080

Normalisasi sungai Winongo, Patangpuluhan, Wirobrajan, Kota Yogyakarta, DIY, Jumat (24/4/2026). (Hadid Husaini for JN)

YOGYAKARTA, jurnalnusa.com — Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta terus mengintensifkan upaya normalisasi Sungai Winongo di kawasan Patangpuluhan, Wirobrajan, Jumat (24/4/2026).

Langkah ini dilakukan guna mengembalikan fungsi sungai sekaligus menekan potensi banjir dan longsor akibat penyempitan aliran.

Sebanyak dua alat berat diterjunkan untuk mengeruk sedimentasi di sisi timur Sungai Winongo.

Area tersebut diketahui dimanfaatkan masyarakat tidak sesuai peruntukannya, sehingga berpotensi menghambat aliran air menuju hilir.

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menyampaikan apresiasi atas dukungan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak dalam upaya penanganan sungai di wilayahnya.

“Kami bersyukur mendapat dukungan penuh dari Kepala BBWSSO untuk normalisasi sungai yang sudah lama tidak tersentuh,” ujarnya.

Hasto menjelaskan, kondisi Sungai Winongo saat ini mengalami penyempitan signifikan, terutama di sisi timur yang dipenuhi bangunan liar seperti kandang ayam, kandang burung, hingga aktivitas bank sampah. Kondisi tersebut dinilai berisiko mengganggu aliran air dan memicu bencana.

“Jika sisi timur penuh, maka aliran air akan menghantam ke barat dan berpotensi menyebabkan longsor. Karena itu, normalisasi ini penting agar fungsi sungai kembali optimal,” jelasnya.

Sebagai bagian dari penataan, pemerintah melakukan pemasangan barrier, penertiban bangunan liar, serta pengerukan sedimentasi menggunakan alat berat.

Upaya ini juga dibarengi dengan pelepasan ikan guna memperbaiki ekosistem sungai.

Mendatang, Pemkot Yogyakarta menargetkan kawasan Sungai Winongo dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata berbasis lingkungan.

Rencana tersebut mencakup pembangunan fasilitas pendukung seperti gazebo dan ruang publik yang tertata.

“Harapannya ini bisa menjadi tempat wisata masyarakat, bukan lagi dipenuhi kandang-kandang yang mengganggu estetika dan fungsi sungai,” tambah Hasto.

Sementara itu, Kepala BBWSSO, Maryadi Utama, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam penanganan sungai.

“Kegiatan hari ini adalah kick off kerja bersama. Tidak hanya pemerintah pusat, tetapi juga ada swasta, mahasiswa, dan komunitas peduli sungai. Ini bentuk kolaborasi pentahelix,” ungkapnya.

Menurut Maryadi, keterbatasan anggaran menjadi alasan utama perlunya gotong royong dari berbagai pihak dalam menjaga kelestarian sungai.

“Kalau hanya mengandalkan anggaran pemerintah, tentu tidak akan cukup untuk membersihkan seluruh sungai. Maka perlu keterlibatan semua pihak,” tegasnya.

Ia menambahkan, normalisasi difokuskan pada titik-titik penyumbatan (bottleneck) akibat sedimentasi agar aliran air kembali lancar menuju hilir.

Di sisi lain, Ketua Forum Komunikasi Winongo Asri, Endah Rohjani, menyampaikan optimisme terhadap program “Winongo Wisataku 2030” yang telah dirintis sejak 2009.

“Kami terus berproses, dan harapannya program Winongo Wisataku 2030 bisa benar-benar terwujud. Ini bukan sekadar slogan, tapi komitmen bersama,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya edukasi berkelanjutan kepada masyarakat serta regenerasi kepemimpinan di tingkat RT dan RW agar semangat menjaga sungai tetap terjaga.

Selain penataan lingkungan, pihaknya juga mulai mengembangkan konsep ekonomi berkelanjutan di sisi barat sungai, seperti pertanian terpadu yang menggabungkan budidaya maggot, kolam ikan, dan peternakan ayam.

Dengan berbagai upaya tersebut, diharapkan Sungai Winongo tidak hanya berfungsi sebagai saluran air, tetapi juga menjadi ruang hidup yang bersih, aman, serta bernilai ekonomi bagi masyarakat sekitar. (**)

Pewarta: Rendika Rakita
Editor: Doi Nuri