Loading...

Pengunjung

Quarter Life Crisis Bukan Tanda Gagal, tetapi Fase Bertumbuh

admin

admin

Minggu, 28 Juni 2026 - 17:32

1407 | Bagikan

Quarter Life Crisis Bukan Tanda Gagal, tetapi Fase Bertumbuh

admin - Pendidikan

Minggu, 28 Juni 2026 - 17:32 | 1407

Irine Putri Shaliha, M.Sc. Dosen Fakultas Psikologi UMM. Senin (29/06/2026). (Humas UMM for JN)

Oleh: Irine Putri Shaliha, M.Sc.
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

OPINI, jurnalnusa.com — Derasnya arus informasi dan media sosial, generasi muda dihadapkan pada berbagai standar kesuksesan yang sering kali tidak realistis.

Tuntutan untuk segera mapan secara finansial, memiliki pekerjaan tetap, hingga menikah sebelum usia 25 tahun menjadi tekanan sosial yang kian menguat.

Kondisi tersebut tidak jarang memicu Quarter Life Crisis (QLC), yaitu krisis psikologis yang banyak dialami individu pada rentang usia dua puluhan.

Quarter Life Crisis berbeda dengan stres sehari-hari. Jika stres biasanya muncul akibat beban pekerjaan atau persoalan yang bersifat sementara, QLC menyentuh aspek yang lebih mendasar, yakni krisis identitas, kebingungan menentukan arah hidup, kecemasan terhadap masa depan, hingga keraguan terhadap pilihan karier dan kehidupan pribadi.

Fenomena ini semakin kompleks karena media sosial menghadirkan gambaran kehidupan yang tampak sempurna.

Banyak anak muda kemudian membandingkan pencapaian dirinya dengan orang lain tanpa memahami proses yang sebenarnya terjadi.

Akibatnya, muncul perasaan tertinggal, tidak cukup baik, hingga kehilangan kepercayaan diri.

Padahal, setiap individu memiliki garis waktu kehidupannya masing-masing. Tidak ada alasan untuk mengukur perjalanan hidup menggunakan standar orang lain.

Sesekali beristirahat dari media sosial merupakan langkah bijak agar tidak terjebak dalam ilusi kesuksesan yang dapat mengganggu kesehatan mental.

Perlu dipahami pula bahwa anggapan mengenai usia ideal untuk mapan atau menikah merupakan konstruksi sosial yang berkembang di masyarakat.

Pertanyaan-pertanyaan mengenai kapan menikah, kapan sukses, atau kapan memiliki rumah sering kali dianggap sepele.

Namun, bagi sebagian orang, tekanan tersebut dapat memicu kecemasan, menurunkan harga diri, meningkatkan sikap mengkritik diri sendiri (self-criticism), bahkan berujung pada depresi.

Dalam perspektif psikologi, kesuksesan tidak semata-mata diukur dari kekayaan atau pencapaian materi.

Kesejahteraan fisik, ketenangan mental, serta hubungan sosial yang sehat merupakan indikator penting dalam menjalani kehidupan yang berkualitas.

Oleh sebab itu, kesiapan psikologis jauh lebih utama dibandingkan sekadar memenuhi tuntutan sosial.

Ketika menghadapi Quarter Life Crisis, penting bagi seseorang untuk tidak mengambil keputusan besar saat kondisi emosi sedang tidak stabil.

Sebaliknya, berikan ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat, mengevaluasi tujuan hidup, serta menumbuhkan sikap welas asih terhadap diri sendiri.

Kesalahan dan kegagalan pada usia muda bukanlah akhir perjalanan, melainkan bagian dari proses belajar menuju kematangan.

Usia dua puluhan sejatinya merupakan masa eksplorasi. Pada fase ini, seseorang masih memiliki ruang untuk mencoba berbagai peluang, belajar dari pengalaman, dan memperbaiki diri. Tidak ada perjalanan hidup yang benar-benar sama.

Karena itu, Quarter Life Crisis tidak perlu dipandang sebagai pertanda kegagalan. Fase ini merupakan bagian alami dari proses pendewasaan.

Generasi muda perlu berhenti menggunakan "stopwatch" orang lain untuk mengukur kecepatan langkahnya sendiri.

Fokuslah pada pengembangan kapasitas diri, batasi paparan informasi yang memicu perasaan rendah diri, dan jadikan usia dua puluhan sebagai masa untuk terus bertumbuh menjadi versi terbaik dari diri sendiri. (**)

Pewarta: Rendika Rakita
Editor: Doi Nuri

Disclaimer
Seluruh isi berita pada rubrik Opini di Media Siber JurnalNusa.com sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis. 

Pandangan, pendapat, analisis, maupun kesimpulan yang disampaikan dalam tulisan opini tidak mencerminkan sikap, kebijakan, atau pandangan redaksi jurnalnusa.com


Redaksi jurnalnusa.com tidak bertanggung jawab atas segala konsekuensi hukum maupun kerugian yang timbul akibat isi tulisan opini. 

Redaksi berhak melakukan penyuntingan terhadap aspek bahasa, ejaan, dan tata tulis tanpa mengubah substansi atau maksud tulisan penulis.