Loading...

Pengunjung

Bugie dan Mimpi Besarnya Tanpa Privilege Putra Wakil Wali Kota Batu

admin

admin

Kamis, 17 April 2025 - 01:39

1877 | Bagikan

Bugie dan Mimpi Besarnya Tanpa Privilege Putra Wakil Wali Kota Batu

admin - Lifestyle

Kamis, 17 April 2025 - 01:39 | 1877

Bugie, Putra semata wayang Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto. Kamis (17/4/2025). (Doi Nuri/JN)

Kota Batu, JN — Privilege atau hak istimewa, yang dimiliki oleh seseorang yang menjadi bagian dari keluarga dengan akses lebih besar untuk mengembangkan potensi, tidak selamanya menjadi sebuah kebanggaan.

Bugie Rewald Maulana misalnya, putera semata wayang Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto itu mengaku jika dirinya tidak ingin hidup dalam bayang-bayang nama besar orang tuanya.

Dalam upaya dia merintis usaha, ataupun aktivitas dirinya sebagai organisatoris, Bugie ingin berdiri diatas kaki dan pemikiran sendiri.

Mimpi besar dirinya menguatkan Kota Batu sebagai kota agrowisata, sedang ia gagas dalam gerakan-gerakan kepemudaan yang sudah berjalan sejak sebelum ayahnya menjadi wakil wali kota.

"Saya bangga menjadi anak ayah (Heli Suyanto, red). Beliau mendidik saya tegas, tapi demokratis,  sehingga saya bebas berpola pikir selama itu positif. Maka apapun yang sedang saya rintis, adalah karya saya sendiri," tegas Bugie.

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu, saat ini sedang intens mengawal beberapa kegiatan sosial untuk pemberdayaan masyarakat.

Kiprahnya di beberapa organisasi, berorientasi pada gerakan-gerakan milenial kreatif yang bertujuan membangun sumber daya manusia (SDM) khususnya bagi para remaja.

"Motivasi hidup saya, jangan menyerah melakukan sesuatu sebelum mencobanya. Maka mimpi besar untuk mewujudkan Batu Agrowisata dan potensi lainnya, pasti bisa kami kerjakan mandiri," ungkap alumni SMA Negeri 1 Batu itu.

Sejak tahun 2023, Bugie juga merintis usaha pribadinya sebagai penunjang financial untuk kebutuhan pribadinya, dengan membangun Pertashop di Desa Sumberbrantas.

"Kalau modal usaha jelas dari ayah lah, tapi saya harus bertanggung jawab mengembalikan modal itu, dengan cara usaha ini harus jalan dan menghasilkan," katanya.

Latar pendidikan hukum yang sedang ia tempuh hari ini, juga menjadi landasan awal Bugie sebelum ia berkiprah pada beberapa gerakan sosial. Asas kemanusiaan, yang membuat ia nyaman sebagai organisatoris.

"Hukum mengatur ketertiban hidup bermasyarakat dengan memberikan peraturan jelas mengenai apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan. Itu alasan saya masuk FH UMM karena hukum adalah berlandaskan kemanusiaan," paparnya.

Selanjutnya, gagasan-gagasan tentang desa dan kota tercintanya senyampang dipahat melalui pikiran dan inovasinya, Bogie memiliki tanggung jawab berat untuk senantiasa menjaga marwah keluarga.

"Tanggung jawab moral secara pribadi berat, namun ini menjadi poin untuk saya terus bertindak dalam circle positif, agar tidak merusak citra keluarga," tandas dia. (*)

Pewarta: Rendi Rakita Dewa
Editor: Doi Nuri