Loading...

Pengunjung

Peringatan ke 154 Tahun Eyang Djoego, Simposium Perjuangan

admin

admin

Minggu, 19 Mei 2024 - 07:37

1482 | Bagikan

Peringatan ke 154 Tahun Eyang Djoego, Simposium Perjuangan

admin - Komunitas

Minggu, 19 Mei 2024 - 07:37 | 1482

Simposium perjuangan seorang tokoh berpengaruh, Eyang Djoego ke 154. Ahad (19/5/2024). (Buang Supeno/JN)

Kabupaten Blitar, JN – Raden Mas Soerjo Koesoemo atau Kiai Zakaria II, adalah nama sebenarnya dari Mbah Djoego yang setiap tahun diperingati. Tahun 2024 ini adalah tahun ke 154 pasukan Pangeran Diponegoro itu wafat.

Sebutan Eyang Djoego menjadi primordial di masyarakat, sebab sebuah padepokan yang didirikannya di wilayah Dusun Jugo, Kesamben, Kabupaten Blitar.

Sosok Eyang Djoego adalah cicit dari Susuhunan Paku Buwana I, yang memerintah Kraton Mataram dari tahun 1705 sampai tahun 1719.

Eyang Jugo wafat pada Senin Pahing tanggal Satu Selo Tahun 1817 Masehi. Jenazahnya dibawa dari Dusun Jugo, Kesamben menuju Wonosari, Kabupaten Malang, untuk dimakamkan sesuai permintaannya yaitu di sisi selatan Gunung kawi.

Setiap tahun, para keturunan dan pengikutnya melakukan ziarah ke makam. Selain pada hari-hari tertentu, seperti saat malam Kamis Kliwon atau Jumat Legi, malam 1 Suro (Muharram).

Bukan hanya Yayasan Ngesti Gondo Alie Zainal Abidin yang merupakan keturunan Eyang Djoego saja yang menggelar perayaan tahlil akbar dan upacara ritual lainnya.

Yayasan Gajah Purwo Nusantara yang berpusat di Kota Batu, setiap tahunnya rutin memberikan dukungan acara dengan membuka dapur umum untuk ribuan jamaah.

Juru bicara Yayasan Ngesti Gondo Alie Zainal Abidin menjelaskan, Ayah dari Eyang Djoego adalah seorang ulama besar di lingkungan Kraton Kartasura pada saat itu.

"Pada masa mudanya Eyang Djoego sudah menunjukkan minat yang besar untuk mempelajari hal-hal di bidang keagamaan Islam," ucap Alie.

Nama Eyang Djoego, dikisahkan Alie, merupakan penggantian nama dari Kyai Zakaria II saya Pangeran Diponegoro ditangkap oleh Belanda di Magelang.

"Beliau ini tidak lagi menggunakan nama bangsawan, atau ulama keraton yang sudah terkenal itu, melainkan nama menyerupai rakyat biasa," jelasnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Gajah Purwo Nusantara Achmad Tohir Setiawan memaparkan terkait konsistensi pihaknya melaksanakan peringatan atas haul Mbah Djoego ini.

"Pelestarian budaya haul para wali, ulama dan pesohor Nusantara lainnya memang sudah menjadi komitmen kami," tukasnya.

Memberikan makan kepada para peziarah dan jamaah haul, Gimbalz sapaan akrabnya menganggap sebagai rutinitas biasa, sebab bukan hanya pada haul Eyang Djoego saja mereka membuka dapur umum.

"Semua logistik yang kami olah menjadi makanan, semua tidak ada yang kami mintakan sumbangan. Semua murni atas kesadaran para anggota Gajah Purwo Nusantara dalam hikmad kepada leluhur mulia," pungkas dia. (*)

Pewarta: Doi Nuri 
Editor: Buang Supeno