Loading...

Pengunjung

I’tikaf sebagai Retret Spiritual, Civitas UMM jadikan Ramadan Jadi Ruang Jeda

admin

admin

Sabtu, 14 Maret 2026 - 21:33

1596 | Bagikan

I’tikaf sebagai Retret Spiritual, Civitas UMM jadikan Ramadan Jadi Ruang Jeda

admin - Analekta Ramadan 1447 H

Sabtu, 14 Maret 2026 - 21:33 | 1596

Pelaksanaan salat witir dilanjutkan i'tikaf di Masjid UMM. Sabtu (14/3/2026). (Humas UMM for JN)

ANALEKTA RAMADAN, jurnalnusa.com — Ratusan civitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang mengikuti kegiatan i’tikaf dan salat malam pada 13–14 Maret 2026.

Kegiatan tersebut dimaknai sebagai retret spiritual untuk menata kembali kesadaran bahwa bekerja sejatinya merupakan bagian dari ibadah.

Kegiatan yang berlangsung dalam suasana khidmat ini menjadi ruang refleksi bersama bagi civitas akademika untuk memperdalam makna pengabdian di lingkungan pendidikan.

Melalui rangkaian ibadah malam, para peserta diajak menenangkan diri sekaligus menguatkan kembali nilai-nilai spiritual yang menjadi fondasi dalam menjalankan tugas di perguruan tinggi.

Menariknya, seluruh peserta hadir mengenakan seragam batik pegawai universitas. Hal ini menjadi simbol kebersamaan sekaligus identitas institusi dalam membangun kekuatan spiritual kolektif di lingkungan kampus.

Bagi UMM, penguatan spiritual tidak hanya bersifat personal, tetapi juga menjadi energi bersama yang dapat memperkuat semangat pengabdian civitas akademika.

Rektor UMM, Nazaruddin Malik, dalam sambutannya menegaskan pentingnya membangun kekuatan ruhaniah sebagai landasan dalam bekerja dan berkarya.

Menurutnya, institusi pendidikan tidak hanya dituntut menghasilkan capaian akademik, tetapi juga harus mampu menghadirkan nilai serta makna dalam setiap aktivitas yang dijalankan.

Ia menjelaskan bahwa UMM berupaya membangun kekuatan alamiah dalam diri setiap civitas akademika agar mampu berkiprah secara lebih bermakna dalam menjalankan peran pendidikan.

Dalam pandangannya, pekerjaan di dunia pendidikan merupakan bentuk pengabdian yang memiliki nilai ibadah apabila dilandasi kesadaran spiritual yang kuat.

“Fondasi bekerja itu adalah ibadah. Karena itu, Ramadan menjadi momentum penting untuk mengasah dan memperkuat nilai tersebut,” ujarnya.

Lebih lanjut, Nazaruddin Malik menyampaikan bahwa terdapat tiga hal utama yang perlu diperhatikan dalam meningkatkan kualitas kerja sebagai ibadah.

Pertama adalah menghadirkan kesadaran akan pengawasan ilahi yang dapat melahirkan integritas tinggi dalam menjalankan tugas. Kesadaran tersebut secara alamiah akan menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam bekerja.

Kedua adalah menjaga kewajiban spiritual di tengah kesibukan pekerjaan sehingga keseimbangan antara aktivitas profesional dan ibadah tetap terjaga.

Sementara yang ketiga adalah memastikan kualitas kerja terus meningkat sebagai bentuk tanggung jawab moral kepada institusi dan masyarakat.

Melalui i’tikaf yang dimaknai sebagai retret spiritual tersebut, UMM berharap energi positif dari aktivitas ibadah dapat menguatkan semangat pengabdian civitas akademika.

Dengan fondasi spiritual yang kuat, setiap individu diharapkan mampu menjalankan tugas dengan kesadaran bahwa bekerja bukan sekadar rutinitas, melainkan juga bagian dari ibadah serta kontribusi nyata bagi kemajuan pendidikan dan masyarakat. (**)

Pewarta: Rendika Rakita Dewa
Editor: Doi Nuri