Gus Baha: Meninggalkan Salat Lima Waktu Dosa Besar, Puasa Tanpa Salat Bisa Sia-sia
Kamis, 19 Februari 2026 - 19:47
Gus Baha: Meninggalkan Salat Lima Waktu Dosa Besar, Puasa Tanpa Salat Bisa Sia-sia
admin - Analekta Ramadan 1447 H
Kamis, 19 Februari 2026 - 19:47 | 2294
Penjelasan Gus Baha tentang meninggalkan salat ketika puasa Ramadan. Jum'at (20/2/2026). (Freepik)
ANALEKTA RAMADAN, jurnalnusa.com — Memasuki bulan suci Ramadan, umat Islam diingatkan untuk tidak hanya fokus pada ibadah puasa, tetapi juga menjaga kewajiban utama dalam agama, yakni salat lima waktu.
Hal ini sebagaimana sering ditegaskan oleh ulama kharismatik, KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha.
Menurut Gus Baha, meninggalkan salat lima waktu, baik di dalam maupun di luar bulan Ramadan, adalah dosa besar dan tidak boleh disepelekan.
Salat merupakan tiang agama dan pembeda utama antara seorang Muslim dengan kekafiran. Mengabaikan salat berarti mengabaikan fondasi utama dalam Islam, terlepas dari apakah seseorang berpuasa atau tidak.
Salat Pembeda Utama
Dalam berbagai pengajiannya, Gus Baha menekankan bahwa salat adalah identitas pokok seorang Muslim.
Gus Baha kerap mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa perjanjian antara seorang Muslim dengan kekafiran adalah salat. Artinya, meninggalkan salat bukan perkara ringan.
Puasa Sah, Tapi Bisa Kehilangan Pahala
Secara hukum fikih, Gus Baha menjelaskan bahwa seseorang yang berpuasa Ramadan namun tidak melaksanakan salat lima waktu, puasanya tetap sah, selama memenuhi rukun dan syarat puasa. Ia tidak wajib mengulang puasanya.
Namun demikian, puasa tersebut bisa menjadi sia-sia, karena tidak menghasilkan pahala yang diterima oleh Allah SWT.
Dalam hadis riwayat Muhammad SAW disebutkan, banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga.
Ini menjadi peringatan keras bahwa ibadah tanpa kesadaran dan kelengkapan kewajiban bisa kehilangan nilai spiritualnya.
Ramadan Waktunya “Mencuci” Dosa
Gus Baha juga menekankan bahwa Ramadan adalah momentum memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas ibadah.
Bulan ini adalah kesempatan untuk “mencuci” dosa, memperbanyak taubat, serta memperkuat komitmen menjalankan seluruh perintah Allah SWT.
Jika seseorang berpuasa namun tetap meninggalkan salat, menurutnya, hal itu menunjukkan belum adanya kesadaran penuh untuk bertobat dan memperbaiki diri.
Kewajiban yang Berdiri Sendiri
Dalam pandangan fikih, salat lima waktu dan puasa Ramadan adalah dua kewajiban yang berdiri sendiri.
Tidak melaksanakan salat memang tidak membatalkan puasa secara langsung, tetapi perbuatan tersebut tetap merupakan dosa besar dan merusak kesempurnaan pahala puasa.
Kesimpulannya, meskipun puasa orang yang tidak salat dianggap sah secara hukum Islam, ia tetap menanggung dosa besar karena meninggalkan salat lima waktu.
Gus Baha mendorong umat Islam agar memaksimalkan seluruh ibadah wajib, bukan hanya puasa, sehingga Ramadan benar-benar menjadi bulan peningkatan iman dan ketakwaan. (**)
Pewarta: Rendika Rakita Dewa
Editor: Doi Nuri