Dari Bukit Angker Menjadi Keajaiban Dunia: Kisah Borobudur Bangkit dari Kubur Waktu
Selasa, 16 Juni 2026 - 11:15
Dari Bukit Angker Menjadi Keajaiban Dunia: Kisah Borobudur Bangkit dari Kubur Waktu
Selasa, 16 Juni 2026 - 11:15 | 1265
Wujud Candi Borobudur sebagai salah satu keajaiban dunia. Selasa (16/6/2026). (Freepik)
KABUPATEN MAGELANG, jurnalnusa.com — Jauh sebelum dikenal sebagai salah satu keajaiban dunia, Borobudur hanyalah sebuah bukit sunyi yang diselimuti hutan lebat di wilayah Magelang, Jawa Tengah. Selama berabad-abad, tempat itu hidup dalam cerita-cerita yang beredar dari mulut ke mulut.
Warga setempat kala itu menyebut bukit tersebut dengan bisikan tertahan. Konon, siapa pun yang mendekat akan ditimpa kesialan.
Batu-batu berukir yang sesekali muncul dari balik semak dianggap sebagai pertanda misterius yang lebih baik dihindari daripada dicari tahu.
Waktu terus berjalan. Hutan semakin rapat menutupi bukit itu. Tidak ada yang berani menyentuhnya.
Hanya angin, abu vulkanik, dan legenda yang menjadi penjaga rahasia besar yang terkubur di dalamnya.
Kisah itu berubah pada awal abad ke-19.
Desas-desus tentang bukit misterius tersebut akhirnya sampai ke telinga Sir Thomas Stamford Raffles, negarawan Inggris yang menjabat sebagai Gubernur Jenderal Jawa pada periode 1811 hingga 1816.
Saat berada di Semarang, Raffles menerima laporan dari Tan Jin Sing, Bupati Yogyakarta keturunan Tionghoa.
Laporan itu menyebut adanya reruntuhan bangunan besar yang tersembunyi di kawasan Desa Bumisegoro.
Rasa penasaran Raffles pun terusik. Namun keterbatasan waktu dan sulitnya medan membuatnya tidak dapat meninjau lokasi secara langsung.
Ia kemudian menugaskan seorang insinyur Belanda bernama H.C. Cornelius untuk melakukan penyelidikan.
Penemuan Cornelius jauh melampaui dugaan siapa pun.
Misteri di balik ilalang yang menjulang tinggi dan timbunan material vulkanik dari letusan Gunung Merapi, tersembunyi sebuah mahakarya peradaban yang telah tertidur hampir seribu tahun.
Bangunan itu adalah Borobudur, peninggalan Dinasti Syailendra yang dibangun pada abad ke-9 dan kelak dikenal sebagai candi Buddha terbesar di dunia.
Catatan dalam buku The History of Java yang diterbitkan pada 1817 menggambarkan kondisi Borobudur saat pertama kali ditemukan dalam keadaan memprihatinkan.
Banyak stupa runtuh, relief tertutup tanah, dan akar pohon besar mencengkeram bagian-bagian bangunan yang terkubur selama berabad-abad.
Cornelius tidak menyerah.
Ia mengerahkan sekitar 200 warga desa untuk membantu proses pembersihan. Berminggu-minggu mereka menebas semak, membakar ilalang, dan menggali timbunan tanah yang menutupi bangunan kuno tersebut.
Perlahan, wajah Borobudur mulai terlihat kembali.
Setiap detail yang muncul didokumentasikan dengan teliti oleh Cornelius.
Sketsa dan catatan yang dibuatnya kemudian menjadi bagian penting dalam publikasi The History of Java, karya yang memperkenalkan keberadaan Borobudur kepada dunia internasional.
Dalam catatan awal itu, nama candi bahkan ditulis sebagai “Boro Bodo”.
Ironisnya, Raffles sendiri tidak pernah melihat langsung hasil penemuan monumental tersebut. Sebelum sempat mengunjungi lokasi, Konvensi London yang ditandatangani pada 13 Agustus 1814 mengharuskan Inggris mengembalikan Jawa kepada Belanda.
Raffles meninggalkan pulau ini tanpa pernah menyaksikan secara langsung kemegahan warisan yang berhasil ia ungkap dari balik kabut sejarah.
Ketika pemerintahan Belanda kembali berkuasa, perhatian terhadap Borobudur sempat meredup. Sejumlah catatan sejarah menyebutkan bahwa publikasi mengenai situs tersebut tidak berkembang secepat yang diharapkan.
Baru pada 1835, di bawah kepemimpinan Residen Kedu, Hartmann, upaya pembersihan dan pelestarian kembali dilanjutkan.
Sejak saat itu, Borobudur perlahan mendapatkan perhatian yang layak sebagai peninggalan budaya bernilai luar biasa.
Kini, bukit yang dahulu dianggap angker telah berubah menjadi salah satu ikon peradaban dunia. Borobudur berdiri megah sebagai candi Buddha terbesar di dunia dan resmi ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada 13 Desember 1991.
Kisah penemuan Borobudur menjadi pengingat bahwa keagungan sejarah tidak pernah benar-benar hilang.
Ia hanya menunggu seseorang yang cukup berani untuk menemukannya kembali.
Dari bisikan hutan yang penuh mitos, rasa ingin tahu seorang gubernur, ketelitian seorang insinyur, hingga kerja keras ratusan warga lokal, lahirlah kembali sebuah warisan yang nyaris terkubur selamanya.
Hari ini, Borobudur bukan hanya milik masa lalu. Ia menjadi saksi kejayaan peradaban Nusantara sekaligus warisan berharga yang akan terus diceritakan kepada generasi-generasi mendatang. (**)
Pewarta: Rendika Rakita
Editor: Doi Nuri